Senin, 29 Agustus 2011

PEMERINTAH : ANTARA HISAB & RU'YAT DALAM PENENTUAN 1 RAMADHAN, IDUL FITHRI & IDUL ADHA

Beberapa hari lagi Ramadhan akan berakhir. Dan satu pemandangan yang hampir terjadi di Indonesia tiap tahunnya adalah, perbedaan hari Idul Fithri !
Ya, mungkin ini hanya terjadi di negeri kita. 1 syawal terjadi 2 kali bahkan lebih, padahal masih satu negeri (bahkan satu propinsi, satu kota, satu desa dan satu RT!!), loh kok bisa?
Menurut hemat saya, ini terjadi karena lemah kemauan kaum muslimin untuk mengikuti saran Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam dalam tata cara penentuan Idul Fithri. Padahal di Al-Qur'an sudah jelas, dan ditambah lagi diperjelas oleh Rasulullah dalam hadits-haditsnya!
Bagaimana caranya?
Ada 3 cara penentuan :
1. Dengan cara rukyatul hilal. Allah berfirman :
فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ
Barangsiapa di antara kamu melihat bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu
2. Persaksian 2 orang yang melihat hilal. Rasulullah bersabda :
صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ وَانْسُكُوا لَهَا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَأَكْمِلُوا ثَلَاثِينَ فَإِنْ شَهِدَ شَاهِدَانِ فَصُومُوا وَأَفْطِرُوا
Berpuasalah kalian karena melihatnya, dan berlebaranlah kalian karena melihatnya dan sembelihlah kurban karena melihatnya pula. Jika -hilal- itu tertutup dari pandangan kalian, sempurnakanlah menjadi tiga puluh hari, jika ada dua orang saksi, berpuasa dan berbukalah kalian.” [H.R. An-Nasaa’i, dishohihkan oleh Al-Albani]
3. Menyempurnakan bilangan Ramadhan menjadi 30 hari, jika tidak ada yang melihat hilal. sebagaimana Hadits diatas.

Selain dari ketiga cara tersebut tidaklah dibenarkan oleh Rasulullah, namun sekarang ini kita saksikan banyak sekali para mutafaqqihah (orang-orang awam yg sok menjadi ahli fiqih) berijtihad bahwa ada cara keempat yang lebih "ampuh" dari sekedar 3 cara diatas. Dan menurut mereka, cara ini sudah pernah Rasulullah isyaratkan dalam haditsnya yang berbunyi :
 إنَّا أمَّة أمِّيَّة لا نكتب ولا نحسب الشهر هكذا وهكذا يعني مرة تسعة وعشرين ومرة ثلاثين 
"sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, tidak menulis dan tidak menghitung, satu bulan itu demikian dan demikian (yaitu terkadang 29 hari dan terkadang 30 hari)" [H.R. Al-Bukhori & Muslim]
Menurut mereka hadits diatas maksudnya adalah : dahulu hisab belum berkembang oleh karena itu Nabi mengatakan laa nahsib (kami tidak bisa menghitung), maka ini adalah illah tentang peniadaan hisab dalam penentuan idul fithri. Dan pada zaman ini illah tersebut telah hilang, karena ilmu hisab telah berkembang pesat, maka hisab bisa dijadikan landasan yang sah dalam menentukan awal Ramadhan, Idul Fithri dan Idul Adha!!
Subahanallah....! sungguh lancang sekali mereka...! Mereka mengganggap diri mereka lebih hebat dari Rasulullah dan Para Sahabat!! Perkataan ini mungkin hampir sama dengan perkataan orang mu'tazilah :
"thoriqotus salaf aslam, wa thoriqotul kholaf a'lam wa ahkam"
(tatacara orang-orang terdahulu lebih selamat, namun tatacara orang-orang sekarang lebih berilmu dan lebih bijaksana)
Syubhat diatas saya baca dari Majalah Suara Muhammadiyah (tapi saya lupa volume ke berapa)
Masih tentang hisab,
Mungkin saat ini Ormas Muhammadiyah dianggap sebagai ormas yang paling teguh menggunakan metode hisab dalam menentukan 1 Ramadhan, Idul Fithri dan Idul Adha. Namun pada kenyataannya, tidak hanya Muhammadiyah. Persis, NU, dan bahkan KEMENTERIAN AGAMA RI juga penggemar fanatik hisab! mereka semua adalah ahli hisab!
Namun, ada perbedaan hisab yang mereka gunakan, inilah mengapa sama-sama pakai hisab kok berbeda hasilnya?.
Muhammadiyah meyakini bahwa masuknya awal Ramadhan dan Idul Fithri adalah tatkala sudah terpenuhi 3 syarat : 
1) telah terjadi ijtimak (konjungsi),
2) ijtimak (konjungsi) itu terjadi sebelum matahari terbenam, dan
3) pada saat terbenamnya matahari piringan atas Bulan berada di atas ufuk (bulan baru telah wujud).
Ketiga kriteria ini penggunaannya adalah secara kumulatif, dalam arti ketiganya harus terpenuhi sekaligus. Apabila salah satu tidak terpenuhi, maka bulan baru belum mulai. Atau dalam bahasa sederhanya dapat diterjemahkan sebagai berikut:
"Jika setelah terjadi ijtimak, Bulan terbenam setelah terbenamnya Matahari maka malam itu  ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah tanpa melihat berapapun sudut ketinggian Bulan saat Matahari terbenam".
Binggung? tidak usah dipikirkan karena cara ini tidak syar'i!!
Lalu, bagaimana dengan Ormas2 lainnya dan juga Kemenag? Mereka juga sebenarnya bersandar pada ilmu hisab. Menurut sumber yang bisa dipercaya (http://rukyatulhilal.org/visibilitas/indonesia/1432/syawwal/index.html) disebutkan :
Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebut Imkanurrukyat yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada  Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :  
Hilal dianggap terlihat  dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:
(1)· Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
(2). Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau 
(3)· Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam selepas konjungsi/ijtimak berlaku. 
Kriteria inilah yang menjadi pedoman Pemerintah RI untuk menyusun kalender Taqwim Standard Indonesia yang digunakan dalam penentuan hari libur nasional secara resmi. Dengan kriteria ini pula keputusan Sidang Isbat Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah "bisa ditebak hasilnya".  Ormas Persatuan Islam (Persis) belakangan telah mengadopsi kriteria ini sebagai dasar penetapan awal bulannya. Belakangan kriteria ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia sementara Singapura menggunakan Hisab Wujudul Hilal dan Brunei Darussalam menggunakan Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas.
Menurut Peta Ketinggian Hilal tersebut, pada hari pertama ijtimak syarat Imkanurrukyat MABIMS belum terpenuhi. Dengan demikian  diberlakukan ISTIKMAL sehingga awal bulan jatuh pada : 31 Agustus 2011

Ya, itulah kenyataannya! Dari pengalaman saya dan beberapa senior saya yang mengikuti jalannya sidang itsbat kemenag RI, selama ini mereka dengan jelas-jelas akan menolak semua persaksian orang yang melihat hilal jika menurut HISAB kemenag RI hilal tidak mungkin bisa dilihat! Aneh bukan? Tidak aneh sih, karena memang landasan utama kemenag RI adalah HISAB!!

Jika demikian keadaannya, ada beberapa permasalahan yang harus kita sikapi secara bijaksana (ingat, secara bijaksana, jangan emosi, jangan saling curiga, dan jangan saling menuduh) :
  1. Bagaimana sikap kita, setelah mengetahui ternyata pemerintah menggunakan metode hisab. Apakah kita akan tetap ikut pemerintah, meskipun diyakini bahwa pemerintah dalam hal ini salah?!
  2. Bagaimana sikap kita untuk tahun ini, jika ternyata nanti ada orang-orang yang bersaksi bahwa mereka telah melihat hilal, namun pemerintah tidak mengganggap persaksian mereka karena (sekali lagi) menurut HISAB pemerintah hilal tidak mungkin terlihat???
  3. Apakah kita akan tetap ikut pemerintah, meskipun kita meyakini bahwa HISAB adalah cara yang batil. Dan disisi lain, pemerintah memberi kebebasan dan keluasaan bagi kaum muslimin di Indonesia untuk memilih mau berhari raya dengan pemerintah atau tidak... terserah, sesuai dengan keyakinan masing-masing!!
  4. Apakah berlain hari dengan pemerintah termasuk perbuatan membangkang, tidak taat, dan memecah belah umat. Jika ternyata pemerintah sendiri yang memperbolehkan orang untuk berbeda! "silahkan berbeda, tidak masalah, asal jaga persatuan dan kesatuan NKRI" begitulah kurang lebih pesan pemerintah!
  5. Setelah diberi kesempatan oleh pemerintah untuk berhari raya dihari apa saja dan dipersilahkan untuk menjalankan keyakinan masing2, apakah kita masih tetap akan memilih ikut dengan pemerintah! sementara keyakinan kita adalah harus dengan ru'yatul hilal, bukan dengan hisab!
Mohon agar pertanyaan2 diatas dijawab dengan ilmu... monggo yang mau menanggapi...

Wallahu a'lam bis showab.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Posting terbaru

Anda ingin trading dengan modal hanya $1 saja... Silakan daftar di sini maka anda akan dapat $5 gratis Marketiva
Ada kesalahan di dalam gadget ini